Lelah

Aku lelah

akan selalu mengalah

Pada kenyataan hidup

Yang senantiasa  redup

Cahaya pun enggan tuk hampiri

berjuta sisi gelap diri

Ingin aku jatuh

mendarat di atas pesona cintamu

Yang selalu buatku terlupa

akan deru napas waktu

memburu seluruh nafsuku

Terus menerus menggerus rapuhnya hati

Kurasakan lelah ini tiada akhir

seperti jalan tak berujung

kucoba menemukan ujung hidupku

tempat bersandar dan bercerita

sampai akhir ku menghadap Sang Raja

3 comments  Tagged:  , , , 24 Agustus 2008

Pedih Perih Tak Terkira

Secara jalan hidupku memang penuh tragedi, hampir 80 % puisi-puisiku berisi keputusasaan, kepedihan, Kesendirian, dan kesengsaraan.

Hal ini sudah ditebak oleh teman chat OL ku yang kukirimi sebuah puisi : “puisi putus cinta yah…?”

ha ha ha….

Tapi inilah sisi melankolis hidupku.

Pedih Perih Tak Terkira

Seperti luka bakar tersapu air

lalu dibaluri bubuk bara

kutersiksa  hingga ke titik nadir

Hilang rasa pedih

aku tertidur lama dan bermimpi

aku tenggelam dalam lautan  tak bertepi

kucoba mengapung tapi kurasa tiada daya lagi

lalu kubiarkan tubuh ini

menyentuh dasar laut dan mati

Add comment  Tagged:  , , , , 30 Juli 2008

Agit puitis? Masa sih…

Kenalin dulu…nama saya agit ariffiandi. Terlahir di bandung 20 Nopember 1979 silam, adalah anak manusia yang biasa-biasa saja. Saat beranjak remaja saya sudah terbiasa membaca. Bacaan apa pun saya lahap, termasuk buku bahasa inggris  pertama saya, yaitu david copperfield-nya Charles Dickens. Lalu merambah ke novel-novel berat Agatha Christie, yang ternyata disadari bahwa membaca novel berarti mengenal seorang perempuan lebih dalam. Kenapa begitu? Karena wanita atau perempuan memiliki sisi melankolis dan tingkat kecerdasan yang tinggi dari membaca novel, sementara yang tidak hobi membaca novel (menurut pendapat saya) mungkin termasuk tipikal wanita yang pembosan dan sedikit bodoh.

no offense yah…he he he…

kegemaran membaca menularkan kegemaran lain yang ternyata cukup mengasikkan, yaitu menulis puisi. Hal ini dimulai ketika saya mulai mengenal dunia musik saat ayah saya membelikan sebuah compo murahan. Compo tersebut saya sambung dengan antena radio eksternal, sehingga bisa mendengar mulai mengenal musikus tanah air dan musikus dunia dengan karya-karyanya yang berisikan syair-syair indah.

Nah, mulai dari situlah saya menulis puisi untuk teman-teman SMP kala itu. Mereka bilang puisi saya bagus. Tidak masterpiece, tapi bagus.

Masuk SMA, saya masih menulis puisi, tapi tidak sesemangat sebelumnya. Kenapa? Mungkin dikarenakan masa-masa remaja saya yang gelap kala itu. Ketidakpercayaan, kekecewaan, keletihan, keterpurukan, dan kesendirian menjadi satu paket yang terpaksa harus ditelan mentah-mentah waktu itu. Hal ini berlanjut kira-kira selama dua belas tahun (1995-2007). Wow…Can’t you imagine that? Nine Years in despair…

Saya ingin sekali menulis banyak puisi di sini. Moga bisa bermanfaat untuk dibaca…

1 comment  Tagged:  , , 30 Juli 2008


 

Januari 2012
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blogroll

Tulisan Terakhir